Menghilangkan Berisik Pada MacBook Pro (yang menjalankan Linux)


Intro Panjang

Jadi begini, saya selalu menginginkan suasana kerja yang lebih sunyi sambil mendengarkan lagu-lagu Megadeth kesukaan saya. Intinya adalah tidak boleh ada sumber suara lain selain dari lagu yang saya dengarkan. Terdengar mustahil? Ternyata tidak.

Sebelumnya, saya mendapatkan hal ini ketika saya masih melakukan pengetikan menggunakan Samsung SM-P901 yang sampai sekarang belum berhasil saya bangkitkan dari mati suri. Jelas saja sunyi, karena seperti semua tablet pada umumnya, P901 tidak memiliki fan. Begitu juga bila saya menggunakan Chromebook yang juga fanless. Tidak ada suara yang mengganggu suasana kerja saya.

Konsep inilah yang ingin saya terapkan pada MacBook Pro mid 2010 saya.

MacBook Pro ini sudah berumur delapan tahun, lumayan tua. Tapi dengan kelakuan Apple yang terus menerus memberi update (dan sialnya saya terus mencoba), proses kerja semakin berat. Untuk itulah saya kemudian memutuskan untuk menginstall Deepin setelah dengan impulsif menghapus semua partisi Mac OSX saya.

Kenapa Deepin?

Deepin menawarkan segala yang saya butuhkan. Yaitu aplikasi yang cantik dan berguna, proses penginstalan yang tidak ribet, dan tentu saja penampilan yang tidak memalukan. Kita tahu bahwa Mac OSX unggul karena hal yang satu ini (bahkan untuk mereka yang betul-betul hanya pemakai).

Tapi…

Satu hal yang mengganggu saya adalah… saya merasa terganggu karena ternyata kipas MacBook Pro ini menjadi sangat berisik. Dan menurut saya betul-betul berisik dan mengganggu.

Untung saja saya menemukan solusi yang tidak membutuhkan rutinitas baru bagi saya. Maksudnya, saya hanya perlu melakukan satu kali setup dan beres.

Beginilah caranya…

Aside

Silence Linux


Long Intro Before Silence Linux Article

I always prefer a quieter working atmosphere while listening to my favorite Megadeth songs. The point is there should be no other sound source other than the song I’m listening to. Sounds impossible? Apparently not. Because I got my way in order to silence Linux.Previously, I got this when I was still typing using the Samsung SM-P901 which until now has not succeeded I raised from death suspended. Obviously quiet, because like all tablets in general, P901 has no fan. Likewise, if I use a Chromebook that is also fanless. No sound interferes with my working atmosphere.

This concept is what I want to apply to my MacBook Pro mid-2010.

MacBook Pro is already eight years old, quite old. But with Apple’s constantly updating behavior (and unfortunately I keep trying), the work process gets heavier. For that reason, I then decided to install Deepin after impulsively removing all my Mac OSX partitions.

Why Deepin?

Deepin offers me everything I needed. That is a beautiful application and use, the installation process is not complicated, and of course, an appearance that is not shameful. We know that Mac OSX is superior because of this one (even for those who are really just users).

But…

One thing that annoys me is … I feel annoyed because it turns out the MacBook Pro fan is becoming very noisy. And I think it’s really noisy and annoying.Luckily I found a solution that does not cost me a new routine.

This is how…

Darktable


I just did something that I knew I would regret later, wiping out my MBP entirely. Such an impulsive move, right? But I found the silver line sooner than I expected.
I found Darktable.
Darktable is not a table decorated with skulls and a crystal ball on it. Though it’s really cool if I own such thing.
Darktable is an image processing application running on Linux (I’m using Deepin). With Lightroom-like GUI that makes the adjustment process intuitive. At least that’s what I thought.
But apparently, his free application has a lot of tools that do not even exist in Lightroom or any other image processing app in its league. Unfortunately, it still looks stiff with some execution steps. But I believe this can be anticipated after acquiring its workflow better.

 

Miro Video Converter Free


Last night, I had an idea to put Movies section to this website, then I tried to convert some of my collections. After some painful useless hours waiting for my video conversion processed by other application (because it failed), I decided to look for another alternative. That’s when I stumbled upon Miro Video Converter Free. Like the name already stated clearly, it’s free.

Not only free to use then ask you for money later like freemium, Miro calls itself a “donationware”, so we can choose how much we want to donate (or not).

Quicktime used to be so reliable for me to convert video files. But not later when I downloaded the more various video in different formats. And also, sometimes my clients send me their footage for me to put in their video. And they tend to send me the videos in the format I’ve never heard of.

Easy To Use

Miro Video Converter Free is easy to use. It lets you choose by devices selection rather than some coding um…codes. So you can comfortably choose the output according to your destination devices.

Here is how it looks:

Miro Video Converter Free

The only cons I find is that it works rather slow. But perhaps that’s just my old MacBook Pro.

Get Miro from its official website.

Puppy Linux Yang Unyu

Xenialpup: Puppy Linux Yang Unyu


Baru aja sebentar saya buka reader di WordPress.com, saya langsung dapat ilmu dari salah satu orang yang saya follow di sini. Walaupun sudah beberapa kali tulisan saya diilhami sama blog yang satu itu, ada yang spesial kali ini, yaitu postingannya tentang Xenialpup.

Awalnya saya pikir kok jorok banget ya namanya? Xenial-pup… wah, siapa yang pup? Apalagi desktopnya bergambar tupai dengan logomark yang memang posisinya bikin saya mikir ini betulan pup.

Xenialpup desktop

Tapi setelah buka webnya, rasanya sih soal tempat pup tadi memang kebetulan aja. Pup di sini sepertinya diambil dari kata puppy (anak anjing).

edit: yup, beneran anak anjing, saya baru sadar kalau di paling atas halaman webnya ada tulisan Puppy Linux.

Nah, berhubung sifat impulsif saya belakangan ini kalau menyangkut operating system gratisan… ya jelas saya download dong.

Tahun 2016, OS ini keluar dengan nama Quirky Xerus untuk Raspberry Pi. Buat yang gak tahu Raspberry Pi… Raspberry Pi adalah komputer yang bentuknya gak mirip komputer… nggg… gimana yah? Pokoknya pertama kali saya lihat Raspberry di kantor teman saya, saya pikir tadinya itu hanya onggokan papan sirkuit copotan dari perangkat elektronik.

Raspberry Pi panic alarm system – CCNP Pro

Baiklah, sekarang waktunya download… kalau ternyata menyenangkan, pasti saya ulas seperti yang lainnya. Buat yang mau coba OS lainnya, bisa baca tulisan saya di bawah ini:

Linux

Android

SaveSaveSaveSave

How To Install WhatsApp on Linux


About WhatsApp

It’s kind of weird if I have to explain WhatsApp again. As the best chat app with the largest number of users in the world, it seems that everyone already has it on their gadget. WhatsApp appears and continues to multiply even since the time of Blackberry Messenger dominate the world of communication. Well, this is how to install WhatsApp on Linux

Why Do We Need WhatsApp on Our Desktop?

If you are the type of people who hate distraction when you’re working on your desktop, then you should have WhatsApp on your desktop. The era of Yahoo Messenger has passed and I don’t think there are many companies that allow its employee to use Facebook in his office hour even for Messenger. Because of… reasons.

How To Install WhatsApp on Linux? Simply type this in the Terminal:

sudo apt-get install whatweb

Yes, this is actually WhatsApp for the web. But what differs this version with other WhatsApp for the web is that this one never loses connection (at least not based on my experience), while the other keeps telling me the “WhatsApp/phone is not connected” error message.

If the method above fails, you can look for the installation in your Software/App Center. If it’s not there, perhaps your system just not allows it.

Another method is to install Chrome extension and run it from there, but it’s only a plain WhatsApp for web to me.

The Method That Works For Zorin OS

I’m trying Zorin OS now and I found Whatsie as the solution to use WhatsApp on this OS, which is pretty much abandoned now, but it’s still working ’til to date.

Get Whatsie here. If the link is broken, you may contact me, but I have no idea if I’m permitted to redistribute this app or not. Please make sure first.

Battle For Wesnoth Game Strategi Klasik Keren di Linux


Battle for Wesnoth

Tadi pagi saya buka-buka Software Center di Linux Mint Mate sambil nunggu serangan rasa kantuk. Lalu saya melihat ada game yang rasanya familiar sekali, namun sekaligus sudah saya lupakan.
Lalu saya bertanya di forum chat (karena ternyata untuk meminta kunci aktivasinya harus melalui forum terlebih dahulu), saya bertanya di mana sebelumnya game Battle for Wesnoth pernah dirilis sebelumnya.
Mungkin karena pertanyaan saya berlebihan, tidak ada yang menjawab. Lantas saya menghubungi kakak saya via WhatsApp dan memberikan link game tersebut padanya.
Dan ternyata benar, kami pernah memainkan game ini lebih dri sepuluh tahun yang lalu secara multi-player menggunakan ethernet.

Ini adalah game yang betul-betul sesuai dengan selera saya! Game seperti inilah yang saya cari selama ini.

Lantas segeralah saya install game ini. Battle for Wesnoth adalah game strategi yang berjalan secara bergantian alias turn-based. Kelebihan game turn-based adalah kita tidak bisa asal menyerang dengan berbekal segala macam perlengkapan dan menembakkannya secara gila-gilaan.
Kita harus membuat kelengkapan dan menyusun apa yang akan dikeluarkan serta menyiapkan antisipasi untuk apa yang akan dilakukan oleh pihak lawan. Menurut saya, inilah game “strategi” yang sebenarnya.
Inilah gameplay Battle for Wesnoth, sudah ingat?
Ternyata setelah sepuluh tahun lebih, game ini masih tetap menarik. Ada dua kemungkinan, game ini memang keren atau saya yang gak pernah dewasa?

 

Pitivi Video Editor Gratis


 Video Editor Gratis

Tiba saatnya buat saya mencoba video editor yang dijalankan di elementaryOS (walaupun kemungkinan bisa juga di versi Linux lainnya). Pilihan jatuh pada Pitivi, karena menurut saya secara tampilan Pitivi ini hampir mirip dengan video editor yang sering saya pakai, yaitu Final Cut ProX. Pitivi merupakan video editor gratis yang bisa didapatkan di AppCenter, pusat aplikasi untuk elementaryOS.


Setelah terinstall, saya langsung melakukan uji coba yang ternyata hasilnya gak terlalu memuaskan juga. Mungkin berlebihan kalau saya bandingkan Pitivi dengan FCPX, maka kali ini saya bandingkan dengan saudara dari FCPX saja, yaitu iMovie. I movie adalah versi stripped-down dari FCPX, namun dengan fitur yang serba pas pernah menemani saya melakukan tugas editing yang tidak terlalu mendesak.


Hasil perbandingan dengan iMovie adalah… Pitivi tidak bisa menampilkan transisi secara real-time. Jadi harus dirender dulu baru bisa kita lihat hasilnya. Memang sih setiap transisi diberi thumbnail yang menggambarkan hasil transisinya, tapi ya tetap saja beda. Kalau kita bisa melihat preview transisi, kita bisa melakukan kontrol dengan lebih teliti.


Tampilan Pitivi

pitivi video editor gratis


Setuju kan kalau saya bilang Pitivi ini tampil bagaikan editor profesional?


tampilan Linux

Kustomasi Tampilan Linux


Ubuntu 17.10 sudah keluar, tapi sayangnya gak bisa gw pakai di instalasi berdampingan dengan ChromeOS di Chromebook*. Yang gw coba paling mentok baru sampai versi 16.04. Walaupun pakai Linux ini jadi pengalaman menyenangkan, tapi harus gw akui kalau awalnya gw kaget juga sama tampilannya yang “rapuh”. Icon dan segala macamnya kaya bisa jatuh berantakan di desktop gw. Cuma hal ini terobati dengan kelebihannya yang gak dimiliki sama MacOS, yaitu kustomasi.

Tahu sendiri kan gimana kejamnya Apple sama urusan kustomasi ini? Dari abad ke abad kayanya anak kecil aja bisa sebutin apa yang berubah. Yang paling kerasa ya cuma dari OS 9 ke OSX. Selanjutnya ya udahlah terima aja.

Mungkin mau coba: Install GalliumOS di Chromebook, Install Ubuntu 17.10 di Chromebook/Macbook, Mainin Mobile Legend di Macbook Pro, Install Endless OS di Chromebook, Dual-boot Phoenix OS dan MacOSX (dan Ubuntu dan Endless OS).

Yang Dilakukan Adalah

Balik ke usaha gw dandanin tampilan Linux, ini kustomasi yang menurut gw asik buat dicoba, walaupun gw masih kurang sreg sama icon-iconnya. Kalau naksir sama gambar backgroundnya, gw udah taruh linknya di sini.

Kalau video ini kurang jelas, gw mau tulisin aja kalau gw pakai Gnome-pie yang bisa didapetin dengan buka terminal dan ngetik:

sudo apt-get install git build-essential libgtk-3-dev libcairo2-dev libappindicator3-dev libgee-0.8-dev libxml2-dev libxtst-dev libgnome-menu-3-dev valac cmake libwnck-3-dev libarchive-dev libbamf3-dev bamfdaemon
Kalau masih belum berhasil, coba copas aja dari sumbernya ini.
Btw, tahu gak sih gimana caranya nginstall pakai installer front-end di Linux yang gw pakai ini?
*Instalasi Crouton pakai chross.