How Blog Writing Helps Bipolar Like Me (and keeping me sane)


This time I will tell how blog writing helps bipolar like me. I am a very active internet user. Never a day I missed without using the internet. With that facility, plus the anxiety disorder that causes me to be lazy to meet anyone makes me very often berate on the internet.

It’s not that difficult, being a smart guy on the internet. With a little copy and paste, people can easily look smart or wise. But not so with me. I was also diagnosed with schizophrenia, which means a lot of whispers in my ear. If I tell you, I can be considered insane. That’s why I write.

So what do I have now? Bipolar, anxiety disorder and schizophrenia. Really a troublesome combination. Before writing a blog, I use the variety of social media to express what I feel, see or hear. As a result, many of my relatives who knew about my illness and started giving me advices on things they don’t even understand. Shit.


I am often dumbfounded, not doing anything all day except caring for the little one that is now separated away from me. Sometimes I think it’s better for him to be away from me so that his development is not disturbed. Often I get annoyed without cause, and my son became my target because only he was there for me.

Now I miss him so much, and I want to change everything I’ve ever done with my life to always be with him. But every time I see him happy when away from me, I resist the desire to meet him.

Ain’t it funny, how is my source of happiness the source of my misery? Not a person to blame, but myself. Even though people say self-blame is not good, then who is wrong? It could end up blaming destiny. And that’s ridiculous.


How Blog Writing Really Helps

Back to the topic of how blog writing helps me as bipolar. The answer is simple, I need a place for my anger, a place where I can pour out my feelings honestly. Without judgment from others. And know if writing an article that read just one minute just take hours?

It gives me something to kill my time with, so I do not have time to listen to the voices I hear as people diagnosed with schizophrenia.

My partner suggested I write a book, and I have written some books I sell on iBooks and Amazon. But lately I feel more comfortable writing a blog, my psychiatrist also supports this idea. And coincidentally, I really need to talk at length about something I feel without disturbing other’s social media timeline.

As I write more and more, I start gradually making it a shared place between bipolar and caregiver. It’s great when my writing can inspire those who are less excited. And obviously, by writing a blog, my time to annoy people I care about is reduced.

If you are reading this, the chance are you’re bipolar or a caregiver looking for advice. This is my advice, start writing a blog. If it helps me, it will help other like me. Start by checking the link I provided below, it’s easy even for a no brainer like me.

My Story As a Person Suffering Bipolar Disorder & Anxiety Disorder Pt. 01


Prologue

My story as a person suffering from bipolar disorder & anxiety disorder

For those who have been following this website since the beginning (when I was still running this blog with a bipolar niche), you may have read whatever I told you before. But believe me, that’s not all. So, please keep reading. 🙂

I just found out that I was bipolar about a year ago. After my soul mate asked my psychiatrist what kind of illness I actually suffered.

bipolar disorder & anxiety disorderAnxiety Disorder

My anxiety disorder makes it difficult for me to talk to anyone, including my psychiatrist. That is the wrong move. I tend to close myself, in fact, I rarely get out of my room, unless I have to go to the toilet.

Sometimes my brother would say hello when paid me a visit, “hi, what’s up? Why the long face?”

My back pain (Herniated nucleus pulposus = HNP) and anxiety made me prefer not to leave the house. I was even too lazy to bathe or shave. My only friends were my dad, my youngest child because his elder sister had become a teenager. As a teenager, the elder one tends to start demanding privacy. Thank’s for them, 9GAG and Facebook that really helped me through my darkest hours. Oh, and to MG, my dead friend who always been there when I need a good random chat on WhatsApp.

In despair, I decided to take a frantic step, which is to undergo a spinal surgery with paralysis risk. I was lucky not to be paralyzed but unfortunately, my back pain is still there as well. And again my youngest son was the one who was always there to ease my pain.

That made me feel skeptical about medical treatment.

At first, I was diagnosed with schizophrenia, probably because I initially went to a small hospital behind the house. You know, it was hard for me to walk less than a quarter mile because I was too nervous. My anxiety made my palms wet. Imagine this, I had to go to the hospital because I suddenly felt paranoid or (I don’t know the word), but I got scared to go out. Duh…

Although I thank the doctors there, it turned out they wrongly gave me medicine. My chest beat faster than before, and my view became blurred. A good friend of mine picked me up and took me to my psychiatrist.

 

amzn_assoc_placement = “adunit0”;
amzn_assoc_search_bar = “true”;
amzn_assoc_tracking_id = “digressingme-20”;
amzn_assoc_search_bar_position = “bottom”;
amzn_assoc_ad_mode = “search”;
amzn_assoc_ad_type = “smart”;
amzn_assoc_marketplace = “amazon”;
amzn_assoc_region = “US”;
amzn_assoc_title = “Shop Related Products”;
amzn_assoc_default_search_phrase = “Anxiety”;
amzn_assoc_default_category = “All”;
amzn_assoc_linkid = “4786b51bf2e8a42965bca52b526f9eb2”;

//z-na.amazon-adsystem.com/widgets/onejs?MarketPlace=US
I’ll write more in the next part because I don’t want to skip my meds.

Stay tuned by following this blog. 🙂

Anxiety Disorder dan Malas Mandi


Setelah hampir seminggu gak mandi, akhirnya semalam gw mandi tapi gak pakai garam. Gw kan bukan Josua yang “dingin-dingin diasinin”.

Sebetulnya gw udah ga napsu makan obat. Orang bilang sih makin dikit makin bagus ya? Bagus sih kalau orangnya baik-baik aja.

Walaupun gw gak muna kalau orang bilang obat itu rasanya menyenangkan. Tapi please deh jangan dongo-dongo banget secara siapa juga yang mau makan obat yang menyebalkan?!?

Continue reading

ASMR dan Role Play Betulan Ngebantu?


ASMR dan Role Play

Apa itu ASMR dan Role Play? Sebelum masuk ke bagian role play, gw coba jelasin secara singkat apa itu ASMR.

ASMR

Autonomous Sensory  Meridian Response yang disingkat menjadi ASMR tadi adalah gelombang suara yang memberikan sensasi tertentu pada orang yang mendengarnya. Misalnya bikin ngantuk, bikin daya tangkap lebih baik dan bahkan ada yang bisa bikin mabuk. Disarankan bagi yang mau dengerin ASMR supaya tidak membawa uang. Karena bisa-bisa dia malah jadi mabuk dan judi. Gw pernah punya teman yang pekerjaannya adalah membuat ASMR ini, dan sekarang dia sudah meninggal. So?

Role Play

Para pemain game tentunya tahu arti role play. Yes… bermain peran. Di sini pun artinya sama. Karena di awal-awal kemunculan ASMR itu hanya fokus pada audio (walau memang harusnya gitu), pelan-pelan ASMR ditinggalkan penggemarnya. Termasuk gw sih. Kenapa? Karena gw yang ga bisa tidur gara-gara gangguan kecemasan gw kumat dan depresi berat sampai mager malah disuruh dengerin orang cerita tentang dia turun tangga pelan-pelan. Lalu masuk ke gua yang besar… dan gw matiin lantaran kebosanan.

Gabungan ASMR dan Role Play

Lalu bermunculanlah gabungan ASMR dengan role play. Dan ini sangat membantu dan menghibur buat kawula mager yang jarang lihat aktifitas orang lain. Bagaikan sekali timpuk dua tiga pulau terlampaui gitu deh, sob!

Sekarang gw nemu video orang pakai makeup. Mungkin lain kali gw masukin video lainnya yang lebih gak mainstream, misalnya orang ngasih makan singa pakai badannya sendiri.

Coba ditonton dan komen di bawah, sensasi apa yang didapatkan?

Selengkapnya tentang ASMR bisa di baca di sini.

Keseimbangan Kerja dan Hidup

Keseimbangan Kerja dan Hidup


Siapa Yang Gak Mau Punya Keseimbangan Kerja dan Hidup?

Mungkin ada di antara pembaca yang mikir gini. “pertanyaan apa sih nih? Kok tolol bingitz?” Gw gak mikir seperti itu sih, cuma memang kebetulan kata “keseimbangan kerja dan hidup” ini baru secara gak sengaja gw temuin. Nemuinnya juga di background foto yang jadi banner salah satu situs. Kebetulan kali yes? Atau suratan?

Kalau aja kata-kata ini udah gw temuin dari dulu. Kayanya bisa menghemat ribuan menit gw yang terbuang dengan menjelaskan sesuatu secara ribet.

Jadi begini… ehem…

Gw sempat masuk ke dalam rutinitas kerja yang sumpah sangat-sangat membosankan. Walaupun “katanya” setiap hari selalu ketemu orang yang berbeda, nyatanya tiap hari gw cuma berhubungan sama orang yang itu-itu aja. Waktu itu gw dan teman-teman joinan buka konter hape. Masih jaman Nokia apa tuh yang bentuknya kaya Doraemon?

Terus terang, dari konter hape ini gw ngerasa nyari duit itu gampang banget. Yaeyalah, tinggal duduk orang nyamperin kok. Apalagi yang jadi jualan unggulan kami waktu itu adalah konten hp, yang “cuma” butuh kreativitas dan waktu rutin bayar listrik. Bukannya menyombong atau mengilhami kalian buat jualan konten hape (walaupun mungkin masih laku di tempat kalian), dari satu pembeli aja minimal kami dapat 100-300ribu. Bahkn ada yang berjam-jam nongkrong di depan konter kami dengan muka ga meyakinkan (tapi juga bukan muka maling) dan tahu-tahu begitu sepi dia beli seluruh folder kerja kami (dengan cara dikopi, jadi kami tetap punya masternya).

Lalu Apa Kekurangannya?

Lalu gw ingat tiga K, yaitu…kekeke… (udah, itu doang).

Gw ingat kalau setelah menjalani beberapa saat, kok gw malah lupa dengan alasan dan motivasi gw kerja, yaitu keluarga. Gw ini tipikal yang sangat-sangat family man. Lebay banget deh… bentar-bentar ngecek anak, terus paling marah kalau anak gw kurang pengawasan. Waktu itu anak gw masih balita. Sebelum terjun ke urusan hape ini, gw mengais nasi sebagai musisi. Ya untunglah gw lahir di era di mana rocker juga manusia. Gak semuanya serba digital dan instant, walaupun di era digital ini gak semuanya mudah juga.

Ujung-ujungnya, hasil gw cari duit ini bingung mau buat apaan lantaran bener-bener ga ada waktu buat rumah. Kalau dibandingin sama romusha, jelas parahan romushalah. Kembali ke ujung tadi… akhirnya duitnya kepake dikit-dikit sama orang yang paling gampang ditemuin aja dengan tujuan melepas penat. Jadilah ke diskotik. Sampai sekarang juga masih mau sih maen-maen ke diskotik lantaran ada beberapa gerakan ala Black Eyed Peas yang belum sempat gw praktekin, eh tapi udah ditutup sama Pak Gubernur.

Lalu gw memutuskan banting setir..ciiiiiiiiiiiit…

Gw buka distro, yang gak jelas dan ujung-ujungnya gw tinggal. Lalu gw kerja di rumah aja. Buka jasa cetak dan desain, sekaligus ngasuh anak. Tapi pemasukannya minus terus. Setelah beberapa kali kena dan hampir kena tipu segala macam tawaran peluang hidup gampang… Gw terhenyak dengan kata-kata salah satu almarhum teman gw (dia ngomong ini sebelum jadi almarhum, jadi tenang aja bacanya), “mau berapa banyak lagi bakat yang bakallu buang?”

Ini pertanyaan sekaligus sindiran yang kena banget buat gw saat ini dan masih berbekas sampai sekarang. Kenapa? Karena dia di atas gw dari segi mutu dan pelayanan. Tapi secara gaya hidup… dia pas banget sama gw. Berhubung dia udah meninggal duluan, berarti gak semuanya kudu ditiru sih ya?

Nganggur

thatbaldguy / Pixabay

Kembali ke soal keseimbangan kerja dan hidup…

Lu ngerasa bingung mau ngapain? Pikirin apa yang bisa lu kerjain, lalu kerjain. Mulai dari iseng aja kok. Gw mulai nulis ini juga dari iseng, eh lama-lama ketagihan. (Soalnya di sini gw tahu gak bakal dikepohin sama Suneo hohoho…)

Pikirin apa yang bikin lu berhenti ngerjain sesuatu yang lu cintai (dan sukur-sukur produktif), apakah:

amzn_assoc_placement = “adunit0”;
amzn_assoc_search_bar = “true”;
amzn_assoc_tracking_id = “digressingme-20”;
amzn_assoc_search_bar_position = “bottom”;
amzn_assoc_ad_mode = “search”;
amzn_assoc_ad_type = “smart”;
amzn_assoc_marketplace = “amazon”;
amzn_assoc_region = “US”;
amzn_assoc_title = “Kerja Di Mana Aja”;
amzn_assoc_default_search_phrase = “wireless mouse for samsung tab”;
amzn_assoc_default_category = “All”;
amzn_assoc_linkid = “b01414854cf67f5a44d5a545d8667ed2”;

//z-na.amazon-adsystem.com/widgets/onejs?MarketPlace=US

Pernah juga gw terhenyak sama radio, dan bukan lantaran kesetrum pas nyolokin radio. Di radio (tanpa notasi Gombloh R.I.P) gw denger ada yang lagi dkwah bilang gini, “tiap orang dikasih gayung dengan ukuran yang berbeda-beda. Walaupun mereka ngisi air bareng-bareng di laut yang sama, tapi mereka bakal dapat jatah air yang berbeda.” Ini keren loh sob… realistis gitu perumpamaannya. Gw yang lagi nyisir ngaca sampe diem dulu, sambil mengagumi ciptaan Tuhan yang luar biasa ini.

Tetap harus ingat untuk menjadikan kerja dan hidup itu jalan selaras. Bukan cuma masalah waktu, tapi juga untuk urusan prioritas. Jujur aja sih, sampai sekarang gw lebih memprioritaskan keluarga. Cuma apa gunanya juga cuma dengerin orang curcol kalo abis dia beres malah gantian kita yang curcol juga kan? Malu dong…nggg…udah gede.

Inget-inget nabung juga perlu, lantaran hukum alam semesta yang bilang, “lu bakal dapetin apa yang lu usahain” itu gak bilang kalau, “yang lu capek-capek sekarang bakal lu nikmatin sambil santai”. Gimana caranya biar bisa nikmatin sambil leha-leha? Ya nabung itu tadi.

Hindari Pensiun Dini

Hidup di negara tercinta ini ya otomatis hidup dengan berbagai basa-basinya yang menurut gw kok nyuruh buru-buru terus ya?

Contoh:

  • Baru lahir, disuruh cepet gede.
  • Gedean dikit, disuruh cepet bisa jalan padahal pas udah jalan disuruh diem aja jangan ke mana-mana, takut hilang di pasar katanya. Padahal waktu itu lagi mainnya di kebun. Kok bisa hilangnya di pasar sih?
  • Udah masuk sekolah, disuruh cepet lulus.
  • Udah lulus, disuruh cepet cari kerja. Ini yang kadang-kadang jebakan Batman sih… lantaran sebagai anak harus tahu diri udah digedein orangtua, akhirnya kita mau gak mau milih karir yang gak kita sukai.
  • Udah kerja, disuruh cepet kawin.
  • Udah kawin, disuruh cepet punya anak.
  • Udah punya anak, disuruh nambah.
  • Udah nambah disuruh tambah penghasilan.
  • Akhirnya gak tercapailah niatan buat dapet keseimbangan kerja dan hidup tadi.

Satu yang bisa lu bilang ke yang nyuruh cepet-cepet, yaitu “Eh, eloh yang udah nyuruh gw cepet-cepet, jangan ngehalangin apalagi nikung gw dong loh”.

Lantaran serba diburu-buru, kita keburu lelah sebelum waktunya. Ujung-ujungnya jadi pensiun dini. Padahal masih banyak kesempatan yang bisa diambil kalau kita mau. Ya gitu deh kalo udah keburu muak sama rutinitas. Tapi kalau bisa sih jangan. Malu dong sama opa-opa bule di luar sana yang walaupun kulitnya kaya cucian tanpa softener tapi masih pede godain yayanglu di sosmed.

amzn_assoc_placement = “adunit0”;
amzn_assoc_search_bar = “true”;
amzn_assoc_tracking_id = “digressingme-20”;
amzn_assoc_search_bar_position = “bottom”;
amzn_assoc_ad_mode = “search”;
amzn_assoc_ad_type = “smart”;
amzn_assoc_marketplace = “amazon”;
amzn_assoc_region = “US”;
amzn_assoc_title = “Padahal tuh opa-opa gak pake ini:”;
amzn_assoc_default_search_phrase = “skin softener”;
amzn_assoc_default_category = “All”;
amzn_assoc_linkid = “1d3c1a5c95fef3c2701d84a7c528690d”;

//z-na.amazon-adsystem.com/widgets/onejs?MarketPlace=US

Jir… Apa Urusannya Sama Hayday?

Inti dari tulisan ini ya kaya Hayday… intinya adalah manajemen waktu dan usaha tentunya. Lu ga boleh ngarepin sekaya tetanggalu kalau dia juga start awalnya udah beda. Percaya aja sama “gayung” yang udah jadi bekal hidup. Terus isi sampe penuh. Tapi inget, waktu ngabisinnya ya sama yang jadi motivatorlu buat kerja. Gimana, sekarang merasa termotifasi sama tulisan gw ini? Gw udah jadi motivatorlu dong? Ayo sini setoran!

 

Keseimbangan kerja dan hidup itu penting sekali buat kamu yang merasa bahwa hampir semua waktu kamu habiskan buat bekerja, namun kamu tidak memiliki partner untuk mengapresiasi pencapaian kamu-robocopehinimahbukanquotesda…