Gak kerasa udah dua bulan aja sejak pertama kali gw pakai Chromebook. Chromebook yang gw dapetin sebagai hadiah ulang tahun ini gak pernah sekalipun mengecewakan gw baik dalam menjalankan tugasnya, maupun setelah gw siksa dengan instalin ini-itu seperti Gallium, Endless OS dan Ubuntu. Dan gak jarang juga gw bongkar cuma buat senang-senang. Hebatnya, dia selalu kembali pulih seperti sedia kala. Lantas, di pagi habis begadang gara-gara ngedit video ini, gw baru nyadar kalau gw tuh gak tahu apa-apa soal latar belakang dan sejarah Chromebook ini. Kalau ternyata dia bukan dari kalangan baik-baik gimana? Terus malam-malam gw dicekik waktu tidur. Serem kan?
Maka mulailah gw melakukan pemburuan info soal Chromebook ini, karena kebetulan trending topik hari ini gak ada yang gw ngerti. :p
Apa Itu Chromebook, Chromebox, Chromebase dan Chromebit?
Sederhananya sih begini… Chromebook itu laptop, Chromebok itu desktop, Chromebase itu all-in-one dan Chromebit itu mirip sama Intel Compute stick. Cara pemakaiannya pun sama, yaitu dicolok ke layar display yang memiliki input HDMI.
Acer Chromebox CXI-QB2957U – Intel 2957U – 2GB – Hitam
Sejarah Chromebook dan Saudara-Saudaranya
Chromebook adalah laptop yang menjalankan sistem operasi Chrome yang berbasis Linux. Ini makanya Chromebook bisa diinstalin Linux dengan mengaktifkan developer mode, baik dengan crouton (diinstal melalui command line di dalam ChromeOS) atau untuk dipakai secara dual-boot.
Pada bulan Desember 2010, Google membagikan 60rb laptop buatan Inventec berseri Cr-48 yang berisi Chromium secara cuma-cuma untuk testing. Para tester ini disebut dengan pilot uji coba Cr-48. Padahal 60rb itu banyak, kok gw gak kebagian ya?
Google membuat gebrakan dengan merubah desain keyboard konvensional menjadi lebih pas untuk pemakai Chromebook yang notabene mayoritas kegiatannya berada seputar internet. Perubahan itu adalah mengubah capslock jadi tombol pencari dan tombol Function jadi tombol back-forward-refresh-dan seterusnya.
Mungkin yang hobi ngoprek ingat kalau laptop apapun bisa disulap jadi Chromebook. Cara itu adalah dengan menginstal Chromium ke dalam laptop jadul. Chromium sendiri sekarang sudah berjalan sendiri di luar ChromeOS dan karena open source bisa dikembangkan secara bebas (kalau ngerti), misalnya dipakai oleh PhoenixOS.
Chromebook Seri High-End
Kalau habis baca ini kesannya Chromebook itu buat rakyat jelata, coba tengok Pixel yang dikeluarin sama Google tahun 2013. Dengan spesifikasi yang tinggi dan harga yang bikin mau nabung, gak terlalu rakyat jelata lagi kan?
amzn_assoc_placement = “adunit0”;
amzn_assoc_search_bar = “true”;
amzn_assoc_tracking_id = “digressingme-20”;
amzn_assoc_ad_mode = “manual”;
amzn_assoc_ad_type = “smart”;
amzn_assoc_marketplace = “amazon”;
amzn_assoc_region = “US”;
amzn_assoc_title = “Keluarga Chromebook Pixel”;
amzn_assoc_linkid = “d39b0ada012a80f89d4c05253a2392a0”;
amzn_assoc_asins = “B075JSK7TR,B075JS8NZ7,B00CGQ07RM,B00BM7Y7DQ”;
//z-na.amazon-adsystem.com/widgets/onejs?MarketPlace=US
Chromebook ngejalanin nyaris semua aktifitas dan aplikasinya di cloud alias secara online, walaupun ada beberapa yang bisa digunakan secara offline. Jadi kaya kita jalanin komputer orang secara remote aja. Tapi ya hari gini gak online, rasanya kaya apa gitu ya? Ini yang bikin Chromebook gak perlu spek yang tinggi-tinggi. Pokoknya asal ada wifi kenceng, lanjut idup lo.
Kekurangan dari hal ini adalah, kita gak bisa lagi tuh yang namanya nginstallin perangkat kesayangan kita. Anggaplah kita punya webcam kesayangan atau pernak-pernik lainnya yang memakai koneksi USB. Kalau gak disupport, ya jadi pajangan aja deh. Atau ya install Linux dan aktifin dari situ.
Tapi makin ke sini, makin banyak peripheral yang disupport sama ChromeOS, kecuali printer. Karena kayaknya sih doi mau mengedepankan Google cloud print yang setelah gw coba gak mengecewakan juga.
Kelahiran Chromebox dan Chromebase
Chromebook jadi laptop Linux dengan penjualan tertinggi. Di tahun 2012 Google meluncurkan Chromebox, versi desktop dari Chromebook. Disusul dengan peluncuran Chromebase di tahun 2014. Kalau pernah lihat komputer yang bentuknya kaya iMac tapi bukan iMac, itulah Chromebase.
amzn_assoc_placement = “adunit0”;
amzn_assoc_tracking_id = “digressingme-20”;
amzn_assoc_ad_mode = “manual”;
amzn_assoc_ad_type = “smart”;
amzn_assoc_marketplace = “amazon”;
amzn_assoc_region = “US”;
amzn_assoc_linkid = “d8331293b386ad24d2e597883326f815”;
amzn_assoc_design = “in_content”;
amzn_assoc_asins = “B01G26U492,B01IA7QHYM”;
//z-na.amazon-adsystem.com/widgets/onejs?MarketPlace=US
Android
Google telah menjanjikan untuk memberikan update pada Chromebook tipe lama (tertentu) agar bisa menjalankan aplikasi Android di Chromebook. Namun sampai saat ini masih banyak yang belum kebagian jatah (termasuk gw).
Sempat beredar tutorial untuk menjalankan Android di Chromebook dengan cara membuat extension dan mengkonvert apk, namun ternyata itu hanya sementara. Hilang begitu saja ketika Chrome mengupdate.
Google sendiri tidak tertarik untuk menjadikan Android sebagai mesin desktop dan mau lebih berkonsentrasi pada ChromeOS. Apa alasannya? Hanya dia dan sopir bajaj yang tahu.
Android convertibles — basically tablets with a keyboard accessory — make some sense. But Android desktops don’t make much sense right now. Even Google doesn’t’ think Android is appropriate for desktops or laptops, which is why they’re pushing Chrome OS-based desktops and laptop PCs. ~ howtogeek.com
Sedikit Gimmick
Google menargetkan pemakai komputer pemula dan pelajar sebagai pasar Chromebook. Namun ternyata hal ini menimbulkan kasus karena menurut EFF(Electronic Frontier Foundation), Google telah melanggar privasi melalui kebijakannya mengenai cookies dan sinkronisasi. Sehingga keluar pernyataan bahwa pelajar tidak boleh diperah informasinya, dan apabila boleh, harus sepengetahuan orangtuanya.

