fotolu butut

Fotolu Butut, Wajar Orang Komplain


Ya jarang-jarang sih sebetulnya Aku sudi ngomongin orang, apalagi kalau udah menyangkut periuk nasinya. Soalnya Aku makan lontong sih. Cuma yang agak menggelitik adalah karena di pembukaan tahun 2018 ini Aku udah harus lihat ada yang ngomel di timeline Facebooknya.

Ketika Hasil Polesan Make Up kurang Baik, Jepretan Kami terkontaminasi, setelah Melihat Hasil, Komentar User akan seperti ini “Ko potonya Jelek”
Salah FG kah??

Lantas Aku kasih komen, “Kalau customer gak complain saat ngaca dan baru complain sesudah dia difoto, ya salah fotografernya”.

Lantas doi jawab lagi, “blablabla kamera hanya alat penangkap gambar…”

Kalau pakai kata-katanya sendiri buat ngelawan kata-kata awalnya, ya bisa ditarik kesimpulan kalau FG-nya yang butut.

Masuk akal gak jawaban Aku itu?

Analogi, Bukan Oralogi

Ya anggaplah kalau kita beli pisang goreng gak enak, lantas kita musti nyalahin yang menanam pohon pisang? Atau malah nyalahin pisangnya? Merk kompor dan minyaknya? Atau sekalian kita nyalahin yang punya tanah tempat di mana si pisang tumbuh dan tempat terigu berasal?

Paling gampang ya nyalahin tukang pisangnya. Wong dia yang kita percaya secara kita belinya di dia. Bisa jadi kita beli di dia karena namanya udah tersohor, tampilan gerobaknya yang beda dari yang lain, lantaran murah atau ya karena cuma si abang itu yang ada.

Atau kita gak bisa mengeluh karena harga pisangnya emang murah jadi kita harus terima kualitas murahan? Yah, udah kepalang ketelen juga sih… gak dilepeh lagi aja udah bagus.

Balikin lagi aja sih gampangnya, si abang yang nguber-nguber nawarin pisang terus ternyata gak enak, atau kita yang udah tahu pisang si abang (uuu…) gak enak tapi nekad beli?

Kalau si abang yang udah nguber-nguber dan ternyata hasilnya butut, ya wajarlah ngeluh soal rasanya. Kalau si abang lagi anteng-anteng menikmati kejumawaannya terus kita yang maksa-maksa beli… tahu diri ajalah.

Komentar Berdasar

Pendapat pribadi Aku sih, sesudah ngelihat-lihat portfolio mahluk ini… ya Aku sih gak bakal pakai jasa dia. Secara kerjaan temen Aku aja banyak yang jauh lebih bagus dari dia(yaeyalah).

PS: Kalau gak nangkep analogi Aku sih ya… intinya Aku mau bilang kalau, “fotolu butut, wajar orang komplain!”.

PS2: Gak ada tukang gorengan yang terluka saat pembuatan tulisan ini.

fotolu butut

Fotolu Butut, Wajar Orang Komplain


Ya jarang-jarang sih sebetulnya gw sudi ngomongin orang, apalagi kalau udah menyangkut periuk nasinya. Soalnya gw makan lontong sih. Cuma yang agak menggelitik adalah karena di pembukaan tahun 2018 ini gw udah harus lihat ada yang ngomel di timeline Facebooknya.

Ketika Hasil Polesan Make Up kurang Baik, Jepretan Kami terkontaminasi, setelah Melihat Hasil, Komentar User akan seperti ini “Ko potonya Jelek”
Salah FG kah??

Lantas gw kasih komen, “Kalau customer gak complain saat ngaca dan baru complain sesudah dia difoto, ya salah fotografernya”.

Lantas doi jawab lagi, “blablabla kamera hanya alat penangkap gambar…”

Kalau pakai kata-katanya sendiri buat ngelawan kata-kata awalnya, ya bisa ditarik kesimpulan kalau FG-nya yang butut.

Masuk akal gak jawaban gw itu?

Analogi, Bukan Oralogi

Ya anggaplah kalau kita beli pisang goreng gak enak, lantas kita musti nyalahin yang menanam pohon pisang? Atau malah nyalahin pisangnya? Merk kompor dan minyaknya? Atau sekalian kita nyalahin yang punya tanah tempat di mana si pisang tumbuh dan tempat terigu berasal?

Paling gampang ya nyalahin tukang pisangnya. Wong dia yang kita percaya secara kita belinya di dia. Bisa jadi kita beli di dia karena namanya udah tersohor, tampilan gerobaknya yang beda dari yang lain, lantaran murah atau ya karena cuma si abang itu yang ada.

Atau kita gak bisa mengeluh karena harga pisangnya emang murah jadi kita harus terima kualitas murahan? Yah, udah kepalang ketelen juga sih… gak dilepeh lagi aja udah bagus.

Balikin lagi aja sih gampangnya, si abang yang nguber-nguber nawarin pisang terus ternyata gak enak, atau kita yang udah tahu pisang si abang (uuu…) gak enak tapi nekad beli?

Kalau si abang yang udah nguber-nguber dan ternyata hasilnya butut, ya wajarlah ngeluh soal rasanya. Kalau si abang lagi anteng-anteng menikmati kejumawaannya terus kita yang maksa-maksa beli… tahu diri ajalah.

Komentar Berdasar

Pendapat pribadi gw sih, sesudah ngelihat-lihat portfolio mahluk ini… ya gw sih gak bakal pakai jasa dia. Secara kerjaan temen gw aja banyak yang jauh lebih bagus dari dia(yaeyalah).

PS: Kalau gak nangkep analogi gw sih ya… intinya gw mau bilang kalau, “fotolu butut, wajar orang komplain!”.

PS2: Gak ada tukang gorengan yang terluka saat pembuatan tulisan ini.

Seputar Fotografi


Tulisan Ringan Seputar Fotografi

Artikel ini berisi tulisan ringan yang membahas seputar fotografi ada yang umum untuk diketahui dan ada juga yang mungkin hanya mereka yang berniat untuk memperdalam fotografi dengan cara belajar yang mengetahuinya. Hal inilah yang seringkali membedakan antara foto kamu dengan foto orang yang sekedar suka selfie untuk dikoleksi di dalam gadget mereka. Kecuali kalian termasuk manusia bermata “cantik”  yang secara otomatis bisa melakukan framing hanya dengan kedipan mata, tidak ada salahnya meneruskan membaca artikel ini.

StepanFoto / Pixabay

Contoh di atas adalah contoh foto yang sangat mengindahkan kaidah komposisi “rule of third”. Lalu apa bagusnya foto ini? Bisa jadi hanya kebetulan jadi seperti ini. Walaupun saya tidak kenal sama fotografernya (silahkan buka di Pixabay), tapi setahu saya sampai saat ini belum ada kamera yang bisa membuat framing bujur sangkar. Kecuali dengan bantuan app di handphone tentunya. Foto yang kelihatan sederhana ini justru menjadikan kesederhanaan itu sebagai faktor yang menjadikan foto ini indah.

Ada yang ikut menjadikan foto ini bisa menarik, misalnya persiapan sang fotografer yang membentuk jarum panjang dan jarum pendek ke jam 10:10 (walau saya tidak mengerti kenapa dia justru tidak merubah posisi jarum jam yang utama). Mungkin itu menariknya, secara seni itu kan subjektif.

Foto kamu juga bisa sebagus ini kalau kamu paham komposisi dan lighting (bukan lightning!). Bisa dilihat kalau lighting datang dari sisi bawah kanan. Sedangkan kita tahu  biasanya jam dinding berada di tempat yang tinggi. Jadi ada kemungkinan kalau pemotretan dilakukan dengan kondisi jam berbaring di lantai, atau lighting di arahkan dari bawah kanan. Seandainya ini cahaya natural, setinggi apa ya jam ini? Dan mungkin fotografernya harus berada di atas tangga.

Yang bisa kita sadari juga dari foto yang sedang kita bahas ini adalah tidak adanya refleksi sang fotografer di jam dinding itu. Apakah kaca penutupnya dilepas sebelum difoto seperti pembuatan foto produk kacamata pada model? Hal ini bisa menjadi bahan latihan kita. Cara paling mudah adalah dengan melakukan pemotretan dari samping dan kemudian diperbaiki perspektifnya dengan bantuan software.

MichaelGaida / Pixabay

Foto dengan refleksi sang fotografer di atas ini justru memanfaatkan hal yang dihindari saat membuat foto jam dinding di atas. Dengan cerdasnya fotografer ini membut frame in frame pada fotonya.

Kalau menurut saya pribadi, tidak ada istilah membuat foto yang benar dan juga yang salah selama hasil foto itu bisa dinikmati dan diapresiasi oleh pasar yang dituju. Bisa jadi sebuah foto yang tidak berguna untuk seorang fotografer makanan justru jadi berguna di tangan seorang food blogger.

Selain cara membuat sebuah foto, yang juga bisa kamu pelajari adalah bisnis fotografi itu sendiri. Misalnya cara pemasaran dan cara melayani client. Seperti kita tahu bersama, mendapatkan client baru itu lebih mudah daripada mendapatkan returning client. Ada kalanya returning customer tidak diharapkan ada, misalnya di fotografi pernikahan. Bisa-bisa kita dianggap nyumpahin pengantin supaya nikah lagi. Apalagi di bisnis foto funeral, jangan harap deh yang sudah meninggal minta difoto lagi.

Yang perlu diingat, seringkali fotografi yang baik itu bukan yang diminta oleh client. Saat kita sudah yakin dan hobi bermain dengan komposisi, client malah complain soal foto mereka yang miring-miring.

Saran terakhir saya adalah untuk tidak terlalu berlebihan dengan peralatan fotografi yang kalian miliki. Kenapa? Karena kalau kalian tiba-tiba berganti hobi, tidak semua barang bekas kalian dibutuhkan oleh fotografer lain.

Baca Juga:

1. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Fotografi

2. http://www.kelasfotografi.com/2015/05/10-pengetahuan-dasar-fotografi-yang.html?m=1

3. https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20160622123221-317-140065/mempelajari-fotografi-dan-menjadi-fotografer/

4. http://www.kamerashot.com/belajar-komposisi-foto/

5. http://m.liputan6.com/tag/fotografi

6. https://www.hipwee.com/travel/12-trik-sederhana-fotografi-dengan-peralatan-yang-ada-di-rumah-cuma-3-menit-hasilnya-begitu-mewah/

7. http://www.infofotografi.com/

8. https://shopee.co.id/Fotografi-cat.154

9. https://business.idntimes.com/economy/reza-iqbal/7-tips-memulai-bisnis-fotografi-1/full

Kamera Budget Max 4 Jutaan : DSLR Atau Mirrorless?


Dan kerennya, dia minta yang baru (dan lengkap) dengan harga segitu. Lalu ditambah lagi sama pertanyaan mendingan DSLR atau Mirrorless. Maka dengan pengetahuan gw yang sealakadabra ini, gw langsung nunjuk Canon 400D buat DSLR dan Fujifilm X-A2, dua-duanya dengan alasan “kamera budget max 4 jutaan” dan harga segituan udah dapet lensa.

Loh, kenapa gw musti mikirin pake lensa? Ya lantaran yang nanya ini awambaweb sekali. Daripada doi ke toko bawa duit segitu terus ternyata gak dapet lensa. Gak parah tuh?

Dan dimulailah perburuan fakta tentang kamera budget max 4 jutaan

Menurut Snapsort.com , panduan gw dari dulu kalo mau ngehayal bakal beli apaan padahal gak beli-beli… gini nih :


Kelebihan Fuji



kamera budget max 4 jutaan

Pendapat Pribadi

Pakai Mirrorless

  1. Kalo menurut pengalaman pribadi gw sih. Make mirrorless itu enaknya adalah ringan, jadi ngebantu gw yang tangannya mulai tremor-tremor gak jelas gini. Saking ringannya, sampai-sampai dia bisa terayun ngehantam muka orang di belakanglu kalo lu lagi buru-buru.
  2. Tapi…bukan gak ada minusnya juga. Bentuknya yang ringkih lantaran meretro masih belom pas aja di grip gw, jadi ada kemungkinan lepas. Apalagi kalo gw abis nyomot lemper di hajatan orang pas liputan wedding.
  3. Lalu mirrorless itu rentan banget sama overheat. Pertama kali SLT-A33 keluar, gw cuma bisa pake beberapa saat sampe akhirnya dia overheat dan gw cuma bisa pasrah aja. Beberapa tahun kemudian, gw pake A-6000, dan masih overheat juga.
  4. Lalu soal batre, karena kebanyakan LCD-nya bisa diputer-puter, jarang banget yang bisa dipasangin battery grip. Jadi ya kudu bawa-bawa extra batre juga, soalnya ukuran batrenya tuh imut-imut, ngikutin ukuran kameranya.

Pakai DSLR

  1. Kebalikan dari mirrorless, bobot DSLR ini lebih berat. Ada loh eranya orang berlomba-lomba bawa barang berat-berat. Biar gagah gitu kaya tentara. Dipake ga dipake, ya dibawa aja. Kan kalo kreatif dan bernasib baik nanti bisa dipake. Tapi jarang kepake sih, keluar dari tas kameranya pas lagi ngopi doang, Ngopi file? Bukan! Beneran ngopi doang, dengan dialog ,”kayanya asik ya pake lensa itu?”
  2. Bodynya yang solid di tangan, bikin bobot kebagi seimbang antara lensa dan badan. Ini beda sama mirrorless yang lebih mirip lensa yang dikamerain daripada kamera yang dilensain.
  3. Gw belom pernah ngerasain yang namanya overheat selama pakai dslr. Gw pasang di menu auto smile shutter sepanjang acara aja gak ada masalah. Sampe ada yang nyamperin gw ,”bang, itu kameranya pake remote?”
  4. Soal batre, gak usah khawatir. Soalnya Udah buanyak banget solusinya. Mulai battery grip, pake batere AA dan bisa gampang minjem temen juga.

Kesimpulannya :

Gw pribadi milih pake mirrorless lantaran toh kekurangan paling parahnya itu cuma di batre dan overheat. Jadi gw bawa 2 mirrorless yang tipe batre dan lensanya sama kaya yang gw tulis di sini. Buat jaga-jaga.